Sunday, April 30, 2023

BIOMA

E N S I K L O P E D I A



                                    BIOMA


KATA PENGANTAR

Berkat anugrah Tuhan Yang Maha Esa melalui prabawa beliau yang berstana di sini-Pura Boma, maka ensiklopedia pura Boma Predesa Nyanyi Beraban Kediri Tabanan Bali dapat disusun sesuai dengan harapan. Untuk itu kami persembahkan puji syukur kehadapan Ida Batara yang telah memberkati upaya ini. Kami sangat menyadari bahwa ini belum sempurna, untuk ini kami mohon maaf kepada pihak-pihak yang berkepentingan, dan memohon ampun kehadapan Ida Bhatara agar hamba tidak terkena cakrabawa, dan dianugrahi kemudahan-kemudahan dalam segala hal.

Terwujudnya ini sudah tentu melalui proses yang panjang dan tidak mudah, dan dalam kesempatan ini dari lubuk hati yang paling dalam kami mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu ini sampai selesai.

Sebagai akhir kata mohon maaf  yang sedalam dalamnya  atas segala kekurangan, karena kami sadar bahwa tidak mungkin kami dapat memenuhi keinginan semua pihak yang berkepentingan, juga kami mohon maaf atas kesalahan yang tidak segaja kami lakukan dalam penyusunan ensiklopedia pura ini.

Om Santih, Santih, Santih, Om.

 

Tabanan, Juni 2021

Penganceng dan krama pengarep pura

 

 

Tim Penyusun















Berdasarkan data artefactual atau tinggalan purbakala, pura ini merupakan pura kuno mungkin dibangun pada jaman megalitik atau juga mungkin pada jaman klasik, hal ini ditandai dengan adanya Tahta Batu berupa lingga yang sampai saat ini masih berfungsi dipakai sebagai pemujaan.

Bentuk linga seperti ini biasanya digunakan sebagai pemujaan kekuatan alam semesta yang memberikan perlindungan dalam kehidupan manusia.

 

YUPA SKAMBHA

LINGGA PALA SIVA BHAGA


Di sila lingga ini Kebo Iwa melakukan/melaksanakan Yoga Semedi



DARMA LAYA / DARMA PENGASTULAN BIOMA



Darma laya atau Darma pengastulan Bioma di bangun tahun 1324 masehi tahun 1246 saka abad 14 pada masa pemerintahan Ratu Asta Sura Ratna Bumi Banten dinasti Warmadewa saat perjalanan suci patih Kebo Iwa berkeliling keseluruh pelosok wilayah kerajaan, dikala itu pada saat patih Kebo Iwa melaksanakan amustikarana yoga semedi di Yupa skambha yang sudah ada di tempat ini, Kebo Iwa dalam semedi menerima bioma ( suara dari langit/alam semesta atau angkasa ) agar membuat darma laya di tempat ini, setelah selesai semedinya beliau Kebo Iwa membuat dan membangun darma laya atau darma pengastulan Bioma yang dikemudian hari para penyungsungnya menyebut Pura Boma

( PADMA BUWANA )




Kahyangan/Parhyangan Puseh-Desa-Dalem Predesa Nyanyi

berdasarkan

Peswara-Titah Raja Tabanan Sirarya Ngurah Agung Tabanan/Sirarya Ngurah Tabanan, raja XX berkuasa (1844-1903) di tahun 1890

maka dibuat dan dibangun di Pura Boma.

Puri Tabanan berkedudukan di Puri  Kediri

sebagai

Ulu Predesa Nyanyi

Bentuk sistem Ulu Apad dengan Pengulu Nang Dori

  


PERDIKAN DJANDJI/NYANYI BERDASARKAN PESWARA RAJA TABANAN 1890

DJANDJI MENGALAMI NASALISASI MENJADI NYANYI

 




Tahun 1890 Pura Bioma ini diberikan kepada orang-orang yang dikumpulkan oleh Raja Tabanan, Sirarya Ngurah Agung Tabanan dan orang-orang ini  diberikan kemulan berupa tanah dan yang selanjutnya orang-orang ini disebut Krama Pengarep Pura Bioma

Tahun saka 1890 yaitu tahun 1968 pura ini mengalami pemugaran dan perbaikan besar-besaran oleh Krama Pengarep Pura Bioma.






OM TAT SAT

OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDHAM

OM SIDHIRASTU TAD ASTU SWAHA

Parhyangan/kahyangan Puseh-Desa-Dalem ini bertempat di Nyanyi. Secara etimologi kata Kahyangan Tiga terdiri dari dua kata yaitu kahyangan dan tiga. Kahyangan berasal dari kata hyang yang berarti suci mendapat awalan ka dan akhiran an, an menunjukkan tempat dan tiga artinya tiga. Arti selengkapnya adalah tiga buah tempat suci, yaitu Pura Desa atau disebut pula Pura Bale Agung, Pura Puseh dan yang ketiga adalah Pura Dalem.

Kahyangan Tiga terdapat pada setiap desa Adat di Bali. Apabila jumlah desa Adat di Bali 1456 buah, maka jumlah Pura Kahyangan Tiga akan menjadi tiga kali jumlah desa Adat sehingga menjadi 4368 buah pura.

Pada beberapa desa adat di Bali kadang kala penempatan Pura Puseh digabungkan dengan Pura Desa sehingga tampaknya seperti hanya satu pura tetapi sebetulnya adalah tetap dua buah pura, namun begitu ada pula penempatan wujud Puseh – Desa – Dalem didalam satu area berdekatan sebagai referensi kita bisa dapatkan di Candi Perambanan yang merupakan Siwalaya.

Desa adat sebagai lembaga sosial tradisional adalah pengelompokan sosial berdasarkan kesatuan teritorial ditandai mereka bertempat tinggal dalam wilayah yang sama, mempunyai tugas dalam kegiatan gotong royong dan melaksanakan tugas pasukadukaan serta sosial religius.

Pengelompokan yang lain berdasarkan geneologis seperti apa yang disebut tunggal kawitan, tunggal sanggah, pengelompokan sosial yang disebut sisya yang didasarkan atas siapa yang dijadikan pimpinan di dalam suatu upacara keagamaan. Lembaga sosial tradisional yang lain adalah subak (kesatuan petani yang sawahnya menerima air dari satu sumber irigasi yang sama), dan sekaha (kesatuan sukarela).

Keseluruhan lembaga tradisional tadi sangat fungsional bagi upaya pelestarian dan penyelarasan kebudayaan Bali yang dibangun atas dasar landasan konsepsi Trihita Karana (tiga penyebab kesejahteraan hidup) yaitu parhyangan = tempat pemujaan, pawongan = manusia, dan pelemahan = wilayah.

Kahyangan Tiga merupakan salah satu unsur dari Trihita Karana yaitu unsur parhyangan dari setiap desa adat di Bali. Pada Kahyangan Tiga masyarakat desa memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk desa dan masyarakatnya. Unsur yang ke dua dan tiga dari Trihita Karana disebut dengan pelemahan dan pawongan.

Dengan demikian maka di dalam mewujudkan rasa aman, tentram, sejahtera lahir batin dalam kehidupan desa adat berlandaskan tiga hubungan harmonis yaitu hubungan manusia dengan alam atau hubungan krama desa dengan wilayah desa adat, hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya dalam desa adat dan hubungan krama desa dengan Hyang Widi sebagai pelindung. Inilah yang dinamakan Trihita Karana dalam desa adat di Bali.

Dengan tercakupnya unsur ketuhanan dalam kehidupan desa adat di Bali, maka desa adat di Bali mencakup pula pengertian sosio-religius. Maka dari itu perpaduan antara adat dengan agama Hindu di Bali adalah erat sekali sehingga sulit memisahkan secara tegas unsur-unsur adat dengan unsur agama, karena adat-istiadat di Bali dijiwai oleh agama Hindu dan aktivitas agama Hindu didukung oleh adat istiadat di masyarakat.

Sejarah.     

Membicarakan masalah sejarah pendirian Kahyangan Tiga pada setiap desa pakraman/adat di Bali, diketahui dengan pasti dari prasasti Bali kuna yang ada, sumber tertulis yang menyebutkan secara jelas prasasti Samuantiga Bata Anyar.

Tetapi besar kemungkinan pada jaman Bali Kuna ketiga pura tersebut telah ada di tengah-tengah masyarakat Bali karena dipakai kata Kahyangan untuk menyebut pura tersebut. Di dalam prasasti-prasasti Bali Kuna belum ditemukan kata Pura untuk menyebut tempat suci tetapi yang dipakai adalah kata hyang atau kahyangan.

Sebelum masa pemerintahan raja suami-istri Udayana dan Gunapriya Darmapatni tahun 989 – 1011 M di Bali berkembang banyak aliran-aliran keagamaan seperti: Pasupata, Bairawa, Wesnawa, Boda, Brahmana, Resi, Sora, Ganapatya dan Siwa Sidanta. Diantara penasehat pemerintahan Udayana, tersebut nama Senapati Kuturan di samping sebagai ketua Majelis Pusat Pemerintahan yang disebut "Pakiran-kiran i jro makabehan".

Empu Kuturan sebagai seorang senapati dan ahli dalam masalah keagamaan dimasa dinasti Warmadewa di Bali, berhasil dalam menanamkan pengertian di bidang keagamaan dan menyempurnakan sistem kemasyarakatan di Bali. Dalam karangan yogi Mpu Kuturan Purana Tatwa, Dewa Tatwa, Widisastra, memberikan gambaran pejelasan dan pelajaran tentang sejarah para Pendeta, Dewa-dewa dan bagaimana caranya memuja Dewa-dewa, dan caranya membangun kahyangan/pura dengan pedagingannya.

Seorang sarjana Belanda yang lama tinggal di Bali yakni Dr. R. Cons mengatakan kecerdasan Empu Kuturan sebagai seorang filosof besar dan negarawan yang bijaksana. Dalam lontar Raja Purana menyebutkan usaha Empu Kuturan untuk membangun tempat-tempat suci beserta upacaranya sebagai berikut:

Ngaran Dewa ring kahyangan pewangunan Empu Kuturan kapastikan saking Pura Silayukti, muwang ngewangun seraya karya, ngadegang raja purana, mwang nangun karya ngenteg linggih batara ring Bali, kaprateka antuk sira Empu Kuturan, Ngeraris nangun catur agama, catur lokika bhasa, catur gila, mekadi ngewangun Sanggah Kamulan, ngewangun Kahyangan Tiga, Pura Desa, Puseh mwang Dalem.

Terjemahan:

Adapun Dewa di Kahyangan diciptakan atau dibangun oleh Empu Kuturan, direncanakan dari Pura Silayukti dan menyelenggarakan segala pekerjaan sehubungan dengan pembangunan pura-pura kahyangan jagat, demikian pula mengadakan pemelaspasan dan mengisi pedagingan linggih batara-batari di Bali diatur oleh Empu Kuturan. Selanjutnya dibuat peraturan agama, empat cara-cara berbahasa, empat ajaran pokok dalam kesusilaan dan lima tatwa agama, seperti mengajar membuat sanggah Kemulan, Kahyangan Tiga, Pura Desa, Puseh dan Dalem.

Sehubungan dengan pembangunan tempat-tempat suci, oleh Empu Kuturan, babad Gajah Mada menyebutkan sebagai berikut:

Sira to Empu Kuturan sang sida moksah ring Silayukti sira to urnara marahing tumitahing Bali Aga, sira nggawe paryangan pengastawan kabuyutan, ibu, dadia, ring Bali Aga kabeh, apan Bali gung guna sucaya

Terjemahan:

Beliau Empu Kuturan yang moksa di Silayukti, dia yang mengajarkan membuat pemujaan di Bali, termasuk tempat suci pemujaan untuk roh suci leluhur paibon/ dadia, sehingga Bali menjadi jaya dan sejahtera.

Adanya banyak aliran-aliran di Bali menimbulkan perbedaan kepercayaan di masyarakat sehingga sering menimbulkan pertentangan dan perbedaan pendapat di antara aliran yang satu dengan yang lainnya. Akibat adanya pertentangan ini membawa pengaruh buruk terhadap jalannya roda pemerintahan kerajaan dan mengganggu kehidupan masyarakat.

Menyadari keadaan yang demikian itu maka raja Udayana menugaskan Empu Kuturan untuk mengadakan pasamuhan (pertemuan) para tokoh- tokoh agama di Bali. Pasamuhan para tokoh agama itu bertempat di “Bata Anyar” Desa Bedahulu Kabupaten Gianyar.

Pertemuan para tokoh-tokoh agama dari berbagai aliran yang ada di Bali berhasil menetapkan dasar keagamaan yang disebut Tri Murti yang berarti tiga perwujudan dari Hyang Widi yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Iswara/Siwa.

Tempat pasamuhan yang menghasilkan dasar keagamaan Tri Murti disebut Samuan Tiga di mana sekarang berdiri Pura Samuan Tiga di Desa Bedahulu. Pada pura ini tersimpan banyak peninggalan purbakala seperti lingga, Arca Ganesa, Arca Durga, arca perwujudan batara- batari.

Tiga kekuatan di atas yang merupakan prabawa Hyang Widi dapat dirasakan dan dialami dalam kehidupan di dunia ini sebagai suatu siklus yaitu: lahir, hidup dan mati. Demikian seterusnya berputar sebagai suatu lingkaran yang tiada terputus sepanjang jaman, karena ia kodrat alam dan hukum Tuhan.

Ketiga kodrat alam ini disebut tri kona (segi tiga). Kesaktian untuk menciptakan (utpati), kesaktian untuk memelihara (stiti) dan kesaktian untuk mengembalikan kepada asalnya (pralina) merupakan tiga sifat yang mutlak dan diwujudkan dengan dewa Tri Murti.

Didalam Catur Weda, Tri Murti berarti tiga Dewa yaitu: Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara (Siwa), yang diwujudkan dengan:

Aksara Ang melambangkan Dewa Brahma dengan warna merah dan senjata Gada,   Aksara Ung melambangkan Dewa Wisnu dengan warna hitam dan senjata Cakra, Aksara Mang melambangkan Dewa Iswara/Siwa dengan warna putih dan senjatanya Padma.

Ketiga aksara Ang Ung Mang jika disatukan menjadi A U M. Dalam persenyawaan suara huruf A dan U disandikan menjadi O sehingga AGNI UDAKAM MARUT = A-U-M, AU menjadi O dan M, yaitu lambang aksara Hyang Widi.

Dari uraian tersebut di atas dapat diperkirakan bahwa Kahyangan Tiga pada setiap Desa Adat di Bali dirintis oleh Mpu Kuturan ketika pemerintahan raja suami istri Udayana dan Gunapriya Darmapatni pada abad 10M. Perkiraan ini diperkuat dengan adanya ungkapan dalam babad Pasek yang menyebutkan demikian:

Nguni duk pemadegan sira cri Gunapriya Darmapatni Udayana Warmadewa, hana pesamuan agung ciwa Budha kalawan Bali Aga, ya etunya hana desa pakraman mwang Kahyangan Tiga maka kraman ikang desa para desa Bali Aga.

Terjemahan:

Dahulu tatkala bertahtanya Çri Gunapriya Darmapatni dan suaminya Udayana, ada musyawarah besar Çiwa Buddha dengan pihak Bali Aga, itulah asal mulanya ada desa pekraman dan Kahyangan Tiga sebagai tatanan kehidupan dari masing-masing desa Bali Aga.

Dan uraian di atas dapat diduga bahwa pengelompokan masyarakat ketika itu disebut desa pakraman dan dalam perkembangannya mengalami perubahan yang akhirnya disebut desa adat yang dilengkapi dengan peraturan-peraturan yang disebut Awig-awig.

Awig-awig ini mempunyai kedudukan sebagai stabilisator yang mengatur kegiatan dan aspek kehidupan masyarakat. Tujuannya ialah agar suasana kehidupan desa menjadi tetap terpelihara secara serasi dan harmonis dengan ketertiban yang mantap dan harmonis.

Keserasian dan keharmonisan kehidupan masyarakat dapat diukur dengan sistem cara berpikir yang lugu dan tidak mengadakan perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Dengan cara berpikir yang demikian itu akan melahirkan suasana senasib sepenanggungan yang lebih dikenal dengan istilah suka duka sebagai salah satu warisan budaya yang tak ternilai harganya. 

Fungsi

Untuk lebih memantapkan dan memasyarakatkan konsepsi Tri Murti yang telah disepakati sebagai dasar keagamaan di Bali, maka pada setiap desa adat/pakraman didirikan Kahyangan tiga. Ketiga Kahyangan tersebut adalah:

a.     Pura Desa     tempat pemujaan Dewa Brahma dengan saktinya Saraswati Dewi  dalam fungsinya sebagai pencipta alam dan pengetahuan semesta.

b.     Pura Puseh     tempat pemujaan Dewa Wisnu dengan  saktinya Sri/Laksmi Dewi dalam fungsinya sebagai pemelihara alam dan pengetahuan jagat raya.

c.     Pura Dalem     tempat memuja Dewa Iswara ( Siwa )  dengan saktinya dalam wujud Dewi Durga dengan fungsi sebagai pralaya/pemralina   alam semesta melebur mengembalikan hal yang tidak berguna ke asal semula.

Di samping Pura Kahyangan Tiga yang dimiliki oleh tiap-tiap desa, maka setiap pekarangan rumah orang Bali yang beragama Hindu didirikan tempat beribadat yang disebut "Sanggah" atau "Pamerajan". Perkataan Sanggah berasal dari Sanggar yang berarti tempat suci, karena perubahan huruf dari r menjadi h maka menjadi Sanggah.

Secara etimologi adalah berasal dari kata sa dan angga (sa berarti satu dan angga berarti badan). Jadi berarti satu badan atau penunggalan suksma sarira dengan stela sarira atau penunggalan rohani dan jasmani untuk dapat memusatkan pikiran ke hadapan Hyang Widi, melalui roh suci leluhur.

Sedangkan kata Pamerajan berasal dari kata pa yang menunjukkan tempat dan mara berarti dekat dan ja dari kata jati, yang berarti lahir. Jadi arti dari Pamerajan adalah tempat mendekatkan diri pada asal kelahiran.

Bangunan suci di Sanggah yang berfungsi untuk pemujaan roh suci leluhur adalah Kamulan. Secara etimologi kata kamulan berasal dari kata mula yang berarti asal dan mendapat awalan ka dan akhiran an yang menunjukkan tempat, sehingga berarti tempat asal yaitu leluhur.

Bentuknya adalah sebagai gedong tetapi di dalamnya dibagi atas tiga ruang yaitu ruang tengah, ruang samping kanan dan ruang samping kiri. Mengenai fungsi masing-masing ruang adalah sebagai berikut:

ruang samping kanan adalah pemujaan untuk purusa atau bapanta

ruang samping kiri untuk pradana atau ibunta

ruang di tengah adalah untuk raganta atau Siwatma.

Pertemuan antara purusa dan pradana menghasilkan ciptaan di mana di dalamnya terdapat unsur kekuatan yang disebut atma. Pelaksanaan puja di Sanggah Kamulan disebut: Guru Stawa, dan dijelaskan puji-pujian kepada roh suci, atau disebut guru rupaka. Mantramnya sebagai berikut:

Om dewa-dewa tri devanam, tri murti linggatmanam tri purusa sudha-nityam, sarvajagat jiwatmanam.        

Om guru dewa, guru rupam, guru padyam, guru purvam, guru pantaram devam, guru dewa suddha nityam.

 Terjemahan bebasnya:  

 Ya Tuhan, para dewa dari tiga dewa, tri murti tiga perwujudan simbul Siwa, Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwa, suci selalu, jiwa dari alam semesta.         

Ya Tuhan, gurunya dari Dewa, Gurunya batara-batari, junjungan guru permulaan, guru perantara dewa-dewa, gurunya dewa yang selamanya suci.

 Konsepsi Tri Murti di Bali tampak pula tercermin di Pura Dalem Puri sebagai Pura Dalemnya Bali, Pura Basukian sebagai Pura Pusehnya Bali dan Pura Penataran Agung  sebagai Pura Desanya Bali

Kahyangan Tiga yang merupakan unsur parhyangan dari Trihita Karana, penempatannya pada desa pakraman/adat diatur sebagai berikut: Pura Desa biasanya dibangun di tengah-tengah pada salah satu sudut dari Caturpata atau perempatan agung. Pada sudut yang lain terdapat bale wantilan (bale desa) rumah pejabat desa, pasar dengan Pura Melanting.

Pura Puseh dibangun pada bagian arah selatan dari desa yang mengarah ke pantai karena itu Pura Puseh sering disebut Pura Segara di Bali Utara. Pura Dalem dibangun mengarah ke arah barat daya dari desa karena arah barat daya adalah arah mata angin yang dikuasai oleh Dewa Rudra yaitu aspek Siwa yang berfungsi mempralina segala yang hidup yang tidak berguna.

 Upacara Piodalan     

Pura yang termasuk kelompok Kahyangan Tiga, masing-masing mempunyai hari piodalan (hari ulang tahun) tersendiri. Piodalan di pura kahyangan Puseh Desa Dalem Predesa Nyanyi pada hari Anggara Keliwon Tambir setiap 210 hari sekali dan disetiap Anggara Keliwon setiap 35 hari diadakan Rerainan. Hari piodalan dari suatu pura ditentukan melalui hari diresmikan pura tersebut. Hari peresmian biasanya dipilih hari yang baik sesuai dengan petunjuk dari pendeta dan selanjutnya ditetapkan sebagai hari piodalan. Kata piodalan adalah berasal dari kata wedal yang artinya lahir mendapat awalan pa dan akhiran an yang berarti tempat lahir atau kelahiran.

Waktu pelaksanaan hari piodalan pada tiap-tiap pura berbeda-beda, ada setiap enam bulan atau 210 hari, tetapi ada pula yang dilaksanakan setiap tahun. Upacara piodalan dari pura digolongkan pada upacara dewa yajnya yang merupakan salah satu dari lima jenis upacara atau Panca Yajnya. Yajnya berasal dari kata jaj yang artinya sembahyang. Dari akar kata ini lalu menjadi kata yadnya yang berarti persembahan kepada Hyang Widi dan manifestasinya.

Pelaksanaan upacara di Pura Kahyangan Tiga dilakukan secara berkala pada hari-hari tertentu, seperti upacara tiap bulan sekali yang disebut rerainan yang jatuh harinya sesuai dengan hari piodalan dan juga setiap hari Purnama dan tilem. Upacara yang diadakan berkala setiap 210 hari disebut hari piodalan dengan upacara yang lebih besar dari rerainan. Jenis upacara berkala yang lebih besar adalah karya ngusaba, karya mamungkah dan lain-lainnya.

Pada umumnya tiap-tiap pura Kahyangan Tiga mempunyai kekayaan khusus yang disebut laba pura, atau kalau di Jawa pada jaman Hindu disebut tanah perdikan dari suatu Candi. Laba Pura biasanya dalam bentuk tanah yang luasnya tergantung pada kemampuan dari desa pekraman/adat. Hasil dari penggarapan tanah dimanfaatkan untuk kepentingan biaya upacara rerainan, piodalan dan juga untuk biaya memperbaiki kerusakan dari bangunan-bangunan yang ada di dalam pura. Kelompok orang yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan suatu pura disebut: Krama pengarep pura; krama pengarep Pura Boma sebagai penanggungjawab kahyangan Puseh, Desa dan Dalem telah diberi tanah Kemulan (modal tanah perdikan) oleh Raja Tabanan Sirarya Ngurah Agung Tabanan pada tahun 1890 dan hasil dari tanah tersebut sebagai modal untuk segala keperluan Lingga Pala Siwa Bhaga, Darma laya Bioma dan Kahyangan Puseh Desa Dalem.

Untuk menunjukkan rasa baktinya kepada Hyang Widi dan Batara Batari, ketika upacara piodalan masyarakat menghaturkan sesajen yang disebut banten piodalan dan banten perseorangan dari anggota krama pura. Banten piodalan dapat dibedakan atas beberapa jenis seperti banten sor, catur dan lainnya. Jenis bebanten mana yang akan dilaksanakan tergantung pada kemampuan dari para krama pura. Selain menghaturkan sesajen ketika upacara piodalan berlangsung, diiringi pula dengan gamelan dan tari - tarian suci keagamaan. Jenis tarian yang dipentaskan adalah; tari pendet. Tujuan dari pementasan tarian ini adalah untuk menyambut kedatangan kekuatan suci di mana pada saat ini masyarakat akan mengadakan kontak dan mohon keselamatan bagi warganya.

Upacara piodalan dan jenis-jenis upacara berkala di Pura Kahyangan Tiga diantarkan oleh seorang purahita/pendeta yaitu Pinandita dan Pendeta tetapi upacara kecil yang disebut rerainan diantarkan (diselesaikan) oleh seorang pemangku kayangan dari pura itu sendiri. Untuk desa-desa kuna upacara diselesaikan oleh seorang jero Gede atau semacam pemangku. Ketika pendeta/Pinandita memuja, para krama pura sudah siap di halaman dalam untuk melaksanakan pemujaan. Setelah selesai memuja maka pendeta/Pinandita menuntun jalannya persembahyangan hingga selesai.





TRI KAHYANGAN PREDESA DJANDJI/NYANYI


                     
                      KARA LINGGA DESA

PURA DESA

PESAMUAN AGUNG







KARA LINGGA PUSEH

PURA PUSEH

SRI-SEDANA/KAKI MANUH-NINI MANUH






KARA LINGGA DALEM

PURA DALEM

RATU MAS AYU





RATU NYOMAN/HYANG BARUNA

HARI BHUWANA

HYANG HARI BHUWANA

 



ARDHANARESWARI

DIK


WIDIK


CANDI BENTAR ( 1965 )

Ardhanareswari = Ardha Nari Iswara

Ardha = setengah / separo

Nari = parwati

Iswara = siwa

Ardha nari iswara sebuah wujud dimana tubuh yang sama dibagi sama oleh siwa dan parwati , masing-masing mencerminkan  separoh bagian berwujud siwa; satu bagian lainnya merupakan perwujudan parwati, satu wujud mempunyai dua bagian, setengah laki-laki dan setengah wanita.

Kedua belahan ni menyatu dan manunggal dalam satu wujud :

Achintya / Sanghyang Tunggal / Sanghyang Licin,

Dalam wujud Achintya tidak ada laki-laki dan wanita,

Disini tidak ada pemisah/pembeda Siwa dengan Sakti, purusa dengan predana; atau siwa dengan buda = adwaya dengan adwaya jnana = siwa buda tunggal.

Didalam ajaran Tantrayana Ardhanareswari adalah penunggalan Siwa Sakti merupaka asal muasal alam semesta dengan segala isinya.

Ardhanareswari penunggalan SiwaBuda merupakan wujud Rwabineda;

Dalam paksa Buda dengan Adwaya-Adwaya Jnana merupakan perwujudan Adi Buda-Prajna Paramita.

Penyatuan dari dua kekuatan antagonis ini disebut Ardhanareswari = Sanghyang Tunggal.

Di Besakih penyatuan SiwaBuda menjadi perwujudan Surya Candra.




TAMAN BEJI BOMA ( 1965 )

Tatanan Taman Beji Boma berdasarkan tattwa Panca Aksara, Panca Brahma dan Panca Tirta Amerta

NARAYANA upanisad