E N
S I K L O P E D I A
KATA
PENGANTAR
Berkat anugrah Tuhan Yang Maha Esa melalui prabawa beliau yang berstana di sini-Pura Boma, maka ensiklopedia pura Boma Predesa Nyanyi Beraban Kediri Tabanan Bali dapat disusun sesuai dengan harapan. Untuk itu kami persembahkan puji syukur kehadapan Ida Batara yang telah memberkati upaya ini. Kami sangat menyadari bahwa ini belum sempurna, untuk ini kami mohon maaf kepada pihak-pihak yang berkepentingan, dan memohon ampun kehadapan Ida Bhatara agar hamba tidak terkena cakrabawa, dan dianugrahi kemudahan-kemudahan dalam segala hal.
Terwujudnya ini sudah tentu melalui proses yang panjang dan tidak mudah, dan dalam kesempatan ini dari lubuk hati yang paling dalam kami mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu ini sampai selesai.
Sebagai akhir kata mohon maaf yang
sedalam dalamnya atas segala kekurangan,
karena kami sadar bahwa tidak mungkin kami dapat memenuhi keinginan semua pihak
yang berkepentingan, juga kami mohon maaf atas kesalahan yang tidak segaja kami
lakukan dalam penyusunan ensiklopedia pura ini.
Om
Santih, Santih, Santih, Om.
Tabanan, Juni 2021
Penganceng dan krama pengarep
pura
Tim Penyusun
Bentuk linga seperti ini biasanya
digunakan sebagai pemujaan kekuatan alam semesta yang memberikan perlindungan
dalam kehidupan manusia.
YUPA
SKAMBHA
LINGGA PALA
SIVA BHAGA
Di sila lingga ini Kebo Iwa melakukan/melaksanakan
Yoga Semedi
DARMA LAYA / DARMA
PENGASTULAN BIOMA
Darma
laya atau Darma pengastulan Bioma di bangun tahun 1324 masehi tahun 1246 saka
abad 14 pada masa pemerintahan Ratu Asta Sura Ratna Bumi Banten dinasti Warmadewa
saat perjalanan suci patih Kebo Iwa berkeliling keseluruh pelosok wilayah
kerajaan, dikala itu pada saat patih Kebo Iwa melaksanakan amustikarana yoga
semedi di Yupa skambha yang sudah ada di tempat ini, Kebo Iwa dalam semedi
menerima bioma ( suara dari langit/alam semesta atau angkasa ) agar membuat
darma laya di tempat ini, setelah selesai semedinya beliau Kebo Iwa membuat dan
membangun darma laya atau darma pengastulan Bioma yang dikemudian hari para
penyungsungnya menyebut Pura Boma
(
PADMA BUWANA )
Kahyangan/Parhyangan Puseh-Desa-Dalem Predesa Nyanyi
berdasarkan
Peswara-Titah Raja
Tabanan Sirarya Ngurah Agung Tabanan/Sirarya Ngurah Tabanan, raja XX berkuasa
(1844-1903) di tahun 1890
maka dibuat dan
dibangun di Pura Boma.
Puri Tabanan berkedudukan di Puri Kediri
sebagai
Ulu Predesa Nyanyi
Bentuk sistem Ulu Apad
dengan Pengulu Nang Dori
PERDIKAN DJANDJI/NYANYI BERDASARKAN PESWARA RAJA TABANAN 1890
DJANDJI
MENGALAMI NASALISASI MENJADI NYANYI
Tahun 1890 Pura Bioma ini diberikan kepada orang-orang
yang dikumpulkan oleh Raja Tabanan, Sirarya Ngurah Agung Tabanan dan
orang-orang ini diberikan kemulan berupa
tanah dan yang selanjutnya orang-orang ini disebut Krama Pengarep Pura Bioma
Tahun saka 1890 yaitu tahun 1968 pura ini
mengalami pemugaran dan perbaikan besar-besaran oleh Krama Pengarep Pura Bioma.
OM TAT SAT
OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDHAM
OM SIDHIRASTU TAD ASTU SWAHA
Parhyangan/kahyangan
Puseh-Desa-Dalem ini bertempat di Nyanyi. Secara etimologi kata
Kahyangan Tiga terdiri dari dua kata yaitu kahyangan dan tiga. Kahyangan
berasal dari kata hyang yang berarti suci mendapat awalan ka dan akhiran an, an
menunjukkan tempat dan tiga artinya tiga. Arti selengkapnya adalah tiga buah
tempat suci, yaitu Pura Desa atau disebut pula Pura Bale Agung, Pura Puseh dan
yang ketiga adalah Pura Dalem.
Kahyangan Tiga terdapat
pada setiap desa Adat di Bali. Apabila jumlah desa Adat di Bali 1456 buah, maka
jumlah Pura Kahyangan Tiga akan menjadi tiga kali jumlah desa Adat sehingga
menjadi 4368 buah pura.
Pada beberapa desa adat
di Bali kadang kala penempatan Pura Puseh digabungkan dengan Pura Desa sehingga
tampaknya seperti hanya satu pura tetapi sebetulnya adalah tetap dua buah pura,
namun begitu ada pula penempatan wujud Puseh – Desa – Dalem didalam satu area
berdekatan sebagai referensi kita bisa dapatkan di Candi Perambanan yang
merupakan Siwalaya.
Desa adat sebagai
lembaga sosial tradisional adalah pengelompokan sosial berdasarkan kesatuan teritorial ditandai mereka
bertempat tinggal dalam wilayah yang sama, mempunyai tugas dalam kegiatan
gotong royong dan melaksanakan tugas pasukadukaan serta sosial religius.
Pengelompokan yang lain
berdasarkan geneologis seperti apa yang
disebut tunggal kawitan, tunggal sanggah, pengelompokan sosial yang disebut
sisya yang didasarkan atas siapa yang dijadikan pimpinan di dalam suatu upacara
keagamaan. Lembaga sosial tradisional yang lain adalah subak (kesatuan petani
yang sawahnya menerima air dari satu sumber irigasi yang sama), dan sekaha
(kesatuan sukarela).
Keseluruhan lembaga
tradisional tadi sangat fungsional bagi upaya pelestarian dan penyelarasan
kebudayaan Bali yang dibangun atas dasar landasan konsepsi Trihita Karana (tiga
penyebab kesejahteraan hidup) yaitu parhyangan = tempat pemujaan, pawongan =
manusia, dan pelemahan = wilayah.
Kahyangan Tiga merupakan
salah satu unsur dari Trihita Karana yaitu unsur parhyangan dari setiap desa
adat di Bali. Pada Kahyangan Tiga masyarakat desa memohon keselamatan dan kesejahteraan
untuk desa dan masyarakatnya. Unsur yang ke dua dan tiga dari Trihita Karana
disebut dengan pelemahan dan pawongan.
Dengan demikian maka di
dalam mewujudkan rasa aman, tentram, sejahtera lahir batin dalam kehidupan desa
adat berlandaskan tiga hubungan harmonis yaitu hubungan manusia dengan alam
atau hubungan krama desa dengan wilayah desa adat, hubungan manusia yang satu
dengan manusia yang lainnya dalam desa adat dan hubungan krama desa dengan
Hyang Widi sebagai pelindung. Inilah yang dinamakan Trihita Karana dalam desa
adat di Bali.
Dengan tercakupnya unsur
ketuhanan dalam kehidupan desa adat di Bali, maka desa adat di Bali mencakup
pula pengertian sosio-religius. Maka
dari itu perpaduan antara adat dengan agama Hindu di Bali adalah erat sekali sehingga
sulit memisahkan secara tegas unsur-unsur adat dengan unsur agama, karena
adat-istiadat di Bali dijiwai oleh agama Hindu dan aktivitas agama Hindu
didukung oleh adat istiadat di masyarakat.
Sejarah.
Membicarakan masalah
sejarah pendirian Kahyangan Tiga pada setiap desa pakraman/adat di Bali, diketahui
dengan pasti dari prasasti Bali kuna yang ada, sumber tertulis yang
menyebutkan secara jelas prasasti Samuantiga Bata
Anyar.
Tetapi besar kemungkinan
pada jaman Bali Kuna ketiga pura tersebut telah ada di tengah-tengah masyarakat
Bali karena dipakai kata Kahyangan untuk menyebut pura tersebut. Di dalam
prasasti-prasasti Bali Kuna belum ditemukan kata Pura untuk menyebut tempat
suci tetapi yang dipakai adalah kata hyang atau kahyangan.
Sebelum masa
pemerintahan raja suami-istri Udayana dan Gunapriya Darmapatni tahun 989 – 1011 M di Bali berkembang banyak aliran-aliran
keagamaan seperti: Pasupata, Bairawa, Wesnawa, Boda, Brahmana, Resi, Sora,
Ganapatya dan Siwa Sidanta. Diantara penasehat pemerintahan Udayana, tersebut
nama Senapati Kuturan di samping sebagai ketua Majelis Pusat Pemerintahan yang
disebut "Pakiran-kiran i jro makabehan".
Empu Kuturan sebagai
seorang senapati dan ahli dalam masalah keagamaan
dimasa dinasti Warmadewa di Bali, berhasil dalam menanamkan pengertian di bidang
keagamaan dan menyempurnakan sistem kemasyarakatan di Bali. Dalam karangan
yogi Mpu Kuturan Purana Tatwa, Dewa Tatwa, Widisastra, memberikan gambaran
pejelasan dan pelajaran tentang sejarah para Pendeta, Dewa-dewa dan bagaimana
caranya memuja Dewa-dewa, dan caranya membangun kahyangan/pura dengan
pedagingannya.
Seorang sarjana Belanda
yang lama tinggal di Bali yakni Dr. R. Cons mengatakan kecerdasan Empu Kuturan
sebagai seorang filosof besar dan negarawan yang bijaksana. Dalam lontar Raja
Purana menyebutkan usaha Empu Kuturan untuk membangun tempat-tempat suci
beserta upacaranya sebagai berikut:
Ngaran Dewa ring kahyangan pewangunan Empu Kuturan kapastikan
saking Pura Silayukti, muwang ngewangun seraya karya, ngadegang raja purana,
mwang nangun karya ngenteg linggih batara ring Bali, kaprateka antuk sira Empu
Kuturan, Ngeraris nangun catur agama, catur lokika bhasa, catur gila, mekadi
ngewangun Sanggah Kamulan, ngewangun Kahyangan Tiga, Pura Desa, Puseh mwang
Dalem.
Terjemahan:
Adapun Dewa di Kahyangan diciptakan atau
dibangun oleh Empu Kuturan, direncanakan dari Pura Silayukti dan
menyelenggarakan segala pekerjaan sehubungan dengan pembangunan pura-pura
kahyangan jagat, demikian pula mengadakan pemelaspasan dan mengisi pedagingan
linggih batara-batari di Bali diatur oleh Empu Kuturan. Selanjutnya dibuat peraturan agama, empat
cara-cara berbahasa, empat ajaran pokok dalam kesusilaan dan lima tatwa agama,
seperti mengajar membuat sanggah Kemulan, Kahyangan Tiga, Pura Desa, Puseh dan
Dalem.
Sehubungan dengan
pembangunan tempat-tempat suci, oleh Empu Kuturan, babad Gajah Mada menyebutkan
sebagai berikut:
Sira to Empu
Kuturan sang sida moksah ring Silayukti sira to urnara marahing tumitahing Bali
Aga, sira nggawe paryangan pengastawan kabuyutan, ibu, dadia, ring Bali Aga
kabeh, apan Bali gung guna sucaya
Terjemahan:
Beliau
Empu Kuturan yang moksa di Silayukti, dia yang mengajarkan membuat pemujaan di
Bali, termasuk tempat suci pemujaan untuk roh suci leluhur paibon/ dadia,
sehingga Bali menjadi jaya dan sejahtera.
Adanya banyak
aliran-aliran di Bali menimbulkan perbedaan kepercayaan di masyarakat sehingga
sering menimbulkan pertentangan dan perbedaan pendapat di antara aliran yang
satu dengan yang lainnya. Akibat adanya pertentangan ini membawa pengaruh buruk
terhadap jalannya roda pemerintahan kerajaan dan mengganggu kehidupan
masyarakat.
Menyadari keadaan yang
demikian itu maka raja Udayana menugaskan Empu Kuturan untuk mengadakan pasamuhan
(pertemuan) para tokoh- tokoh agama di Bali. Pasamuhan para tokoh agama itu
bertempat di “Bata Anyar” Desa Bedahulu Kabupaten
Gianyar.
Pertemuan para
tokoh-tokoh agama dari berbagai aliran yang ada di Bali berhasil menetapkan
dasar keagamaan yang disebut Tri Murti yang berarti tiga perwujudan dari Hyang
Widi yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Iswara/Siwa.
Tempat pasamuhan yang
menghasilkan dasar keagamaan Tri Murti disebut Samuan Tiga di mana sekarang
berdiri Pura Samuan Tiga di Desa Bedahulu. Pada pura ini tersimpan banyak
peninggalan purbakala seperti lingga, Arca Ganesa, Arca Durga, arca perwujudan
batara- batari.
Tiga kekuatan di atas
yang merupakan prabawa Hyang Widi dapat dirasakan dan dialami dalam kehidupan
di dunia ini sebagai suatu siklus yaitu: lahir, hidup dan mati. Demikian
seterusnya berputar sebagai suatu lingkaran yang tiada terputus sepanjang
jaman, karena ia kodrat alam dan hukum Tuhan.
Ketiga kodrat alam ini
disebut tri kona (segi tiga). Kesaktian untuk menciptakan (utpati), kesaktian
untuk memelihara (stiti) dan kesaktian untuk mengembalikan kepada asalnya
(pralina) merupakan tiga sifat yang mutlak dan diwujudkan dengan dewa Tri
Murti.
Didalam Catur
Weda, Tri Murti berarti
tiga Dewa yaitu: Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara (Siwa), yang diwujudkan dengan:
Aksara Ang melambangkan Dewa Brahma dengan warna
merah dan senjata Gada, Aksara Ung melambangkan Dewa Wisnu
dengan warna hitam dan senjata Cakra, Aksara Mang melambangkan Dewa Iswara/Siwa dengan warna putih dan senjatanya Padma.
Ketiga aksara Ang Ung
Mang jika disatukan menjadi A U M. Dalam persenyawaan suara huruf A dan U
disandikan menjadi O sehingga AGNI UDAKAM MARUT = A-U-M, AU
menjadi O
dan M,
yaitu lambang aksara Hyang Widi.
Dari uraian tersebut di
atas dapat diperkirakan bahwa Kahyangan Tiga pada setiap Desa Adat di Bali
dirintis oleh Mpu Kuturan ketika pemerintahan raja suami istri Udayana dan
Gunapriya Darmapatni pada abad 10M. Perkiraan ini diperkuat dengan adanya
ungkapan dalam babad Pasek yang menyebutkan demikian:
Nguni duk
pemadegan sira cri Gunapriya Darmapatni Udayana Warmadewa, hana pesamuan agung
ciwa Budha kalawan Bali Aga, ya etunya hana desa pakraman mwang Kahyangan Tiga
maka kraman ikang desa para desa Bali Aga.
Terjemahan:
Dahulu
tatkala bertahtanya Çri Gunapriya Darmapatni dan suaminya Udayana, ada
musyawarah besar Çiwa Buddha dengan pihak Bali Aga, itulah asal mulanya ada
desa pekraman dan Kahyangan Tiga sebagai tatanan kehidupan dari masing-masing
desa Bali Aga.
Dan uraian di atas dapat
diduga bahwa pengelompokan masyarakat ketika itu disebut desa pakraman dan dalam perkembangannya mengalami perubahan yang
akhirnya disebut desa adat yang dilengkapi dengan peraturan-peraturan yang
disebut Awig-awig.
Awig-awig ini mempunyai
kedudukan sebagai stabilisator yang mengatur kegiatan dan aspek kehidupan
masyarakat. Tujuannya ialah agar suasana kehidupan desa menjadi tetap
terpelihara secara serasi dan harmonis dengan ketertiban yang mantap
dan harmonis.
Keserasian dan
keharmonisan kehidupan masyarakat dapat diukur dengan sistem cara berpikir yang
lugu dan tidak mengadakan perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Dengan cara
berpikir yang demikian itu akan melahirkan suasana senasib sepenanggungan yang
lebih dikenal dengan istilah suka duka sebagai salah satu warisan budaya yang
tak ternilai harganya.
Fungsi
Untuk lebih memantapkan
dan memasyarakatkan konsepsi Tri Murti yang telah disepakati sebagai dasar
keagamaan di Bali, maka pada setiap desa adat/pakraman didirikan Kahyangan
tiga. Ketiga Kahyangan tersebut adalah:
a. Pura Desa
tempat pemujaan Dewa Brahma
dengan saktinya Saraswati Dewi dalam
fungsinya sebagai pencipta alam dan pengetahuan semesta.
b. Pura Puseh
tempat pemujaan Dewa Wisnu dengan saktinya Sri/Laksmi Dewi dalam fungsinya sebagai
pemelihara alam dan pengetahuan jagat raya.
c. Pura Dalem
tempat memuja Dewa Iswara
( Siwa
) dengan saktinya dalam wujud Dewi Durga
dengan fungsi sebagai pralaya/pemralina alam semesta
melebur mengembalikan hal yang tidak berguna ke asal semula.
Di samping Pura
Kahyangan Tiga yang dimiliki oleh tiap-tiap desa, maka setiap pekarangan rumah
orang Bali yang beragama Hindu didirikan tempat beribadat yang disebut "Sanggah" atau
"Pamerajan". Perkataan Sanggah berasal dari Sanggar yang berarti tempat suci, karena perubahan
huruf dari r menjadi h maka menjadi Sanggah.
Secara etimologi adalah
berasal dari kata sa dan angga (sa berarti satu dan angga berarti badan). Jadi
berarti satu badan atau penunggalan suksma sarira dengan stela sarira atau
penunggalan rohani dan jasmani untuk dapat memusatkan pikiran ke hadapan Hyang
Widi, melalui roh suci leluhur.
Sedangkan kata Pamerajan
berasal dari kata pa yang menunjukkan tempat dan mara berarti dekat dan ja dari
kata jati, yang berarti lahir. Jadi arti dari Pamerajan adalah tempat
mendekatkan diri pada asal kelahiran.
Bangunan suci di Sanggah
yang berfungsi untuk pemujaan roh suci leluhur adalah Kamulan. Secara etimologi
kata kamulan berasal dari kata mula yang berarti asal dan mendapat awalan ka
dan akhiran an yang menunjukkan tempat, sehingga berarti tempat asal yaitu
leluhur.
Bentuknya adalah sebagai
gedong tetapi di dalamnya dibagi atas tiga ruang yaitu ruang tengah, ruang
samping kanan dan ruang samping kiri. Mengenai fungsi masing-masing ruang
adalah sebagai berikut:
ruang samping kanan adalah pemujaan untuk purusa
atau bapanta
ruang samping kiri untuk pradana atau ibunta
ruang di tengah adalah untuk raganta atau
Siwatma.
Pertemuan antara purusa dan pradana menghasilkan
ciptaan di mana di dalamnya terdapat unsur kekuatan yang disebut atma.
Pelaksanaan puja di Sanggah Kamulan disebut: Guru Stawa, dan dijelaskan
puji-pujian kepada roh suci, atau disebut guru rupaka. Mantramnya sebagai
berikut:
Om dewa-dewa tri devanam, tri murti linggatmanam tri purusa sudha-nityam,
sarvajagat jiwatmanam.
Om guru dewa, guru rupam, guru padyam, guru purvam, guru pantaram
devam, guru dewa suddha nityam.
Ya Tuhan, para dewa dari tiga dewa, tri murti tiga perwujudan simbul Siwa, Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwa, suci selalu, jiwa dari alam semesta.
Ya Tuhan, gurunya dari
Dewa, Gurunya batara-batari, junjungan guru permulaan, guru perantara
dewa-dewa, gurunya dewa yang selamanya suci.
Kahyangan Tiga yang
merupakan unsur parhyangan dari Trihita Karana, penempatannya pada desa pakraman/adat diatur sebagai
berikut: Pura Desa biasanya dibangun di tengah-tengah pada salah satu sudut
dari Caturpata atau perempatan agung. Pada sudut yang lain terdapat bale
wantilan (bale desa) rumah pejabat desa, pasar dengan Pura Melanting.
Pura Puseh dibangun pada bagian arah selatan dari desa yang
mengarah ke pantai karena itu Pura Puseh sering disebut Pura Segara di Bali
Utara. Pura Dalem dibangun mengarah ke arah barat daya dari desa karena arah
barat daya adalah arah mata angin yang dikuasai oleh Dewa Rudra yaitu aspek
Siwa yang berfungsi mempralina segala yang hidup yang tidak berguna.
Pura yang termasuk
kelompok Kahyangan Tiga, masing-masing mempunyai hari piodalan (hari ulang
tahun) tersendiri. Piodalan di pura kahyangan Puseh Desa
Dalem Predesa Nyanyi pada hari Anggara Keliwon Tambir setiap 210 hari sekali
dan disetiap Anggara Keliwon setiap 35 hari diadakan Rerainan.
Hari piodalan dari suatu pura
ditentukan melalui hari diresmikan pura tersebut. Hari peresmian biasanya
dipilih hari yang baik sesuai dengan petunjuk dari pendeta dan selanjutnya
ditetapkan sebagai hari piodalan. Kata piodalan adalah berasal dari kata wedal
yang artinya lahir mendapat awalan pa dan akhiran an yang berarti tempat lahir
atau kelahiran.
Waktu pelaksanaan hari
piodalan pada tiap-tiap pura berbeda-beda, ada setiap enam bulan atau 210 hari,
tetapi ada pula yang dilaksanakan setiap tahun. Upacara piodalan dari pura
digolongkan pada upacara dewa yajnya yang merupakan salah satu dari lima jenis
upacara atau Panca Yajnya. Yajnya berasal dari kata jaj yang artinya
sembahyang. Dari akar kata ini lalu menjadi kata yadnya yang berarti
persembahan kepada Hyang Widi dan manifestasinya.
Pelaksanaan upacara di
Pura Kahyangan Tiga dilakukan secara berkala pada hari-hari tertentu, seperti
upacara tiap bulan sekali yang disebut rerainan yang jatuh harinya sesuai
dengan hari piodalan dan juga setiap hari Purnama dan tilem. Upacara yang
diadakan berkala setiap 210 hari disebut hari piodalan dengan upacara yang
lebih besar dari rerainan. Jenis upacara berkala yang lebih besar adalah karya
ngusaba, karya mamungkah dan lain-lainnya.
Pada umumnya tiap-tiap pura Kahyangan Tiga mempunyai kekayaan
khusus yang disebut laba pura, atau kalau di Jawa pada jaman Hindu disebut tanah perdikan dari
suatu Candi. Laba Pura biasanya dalam bentuk tanah yang luasnya tergantung pada
kemampuan dari desa pekraman/adat. Hasil dari penggarapan tanah dimanfaatkan untuk
kepentingan biaya upacara rerainan, piodalan dan juga untuk biaya memperbaiki
kerusakan dari bangunan-bangunan yang ada di dalam pura.
Kelompok orang yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan suatu pura disebut:
Krama pengarep pura;
krama pengarep Pura Boma sebagai penanggungjawab kahyangan Puseh, Desa dan
Dalem telah diberi tanah Kemulan (modal tanah perdikan) oleh Raja Tabanan Sirarya
Ngurah Agung Tabanan pada tahun 1890 dan hasil dari tanah tersebut sebagai
modal untuk segala keperluan Lingga Pala Siwa Bhaga, Darma laya Bioma dan Kahyangan
Puseh Desa Dalem.
Untuk menunjukkan rasa baktinya
kepada Hyang Widi dan Batara Batari, ketika upacara piodalan masyarakat
menghaturkan sesajen yang disebut banten piodalan dan banten perseorangan dari
anggota krama pura. Banten piodalan dapat dibedakan atas beberapa jenis seperti
banten sor, catur dan lainnya. Jenis bebanten mana yang akan dilaksanakan
tergantung pada kemampuan dari para krama pura. Selain menghaturkan sesajen
ketika upacara piodalan berlangsung, diiringi pula dengan gamelan dan tari -
tarian suci keagamaan. Jenis tarian yang dipentaskan adalah; tari pendet.
Tujuan dari pementasan tarian ini adalah untuk menyambut kedatangan kekuatan
suci di mana pada saat ini masyarakat akan mengadakan kontak dan mohon
keselamatan bagi warganya.
Upacara piodalan dan
jenis-jenis upacara berkala di Pura Kahyangan Tiga diantarkan oleh seorang purahita/pendeta
yaitu Pinandita
dan Pendeta tetapi upacara kecil yang disebut rerainan diantarkan
(diselesaikan) oleh seorang pemangku kayangan
dari
pura itu sendiri. Untuk desa-desa kuna upacara diselesaikan oleh seorang jero
Gede atau semacam pemangku. Ketika pendeta/Pinandita memuja, para krama pura sudah
siap di halaman dalam untuk melaksanakan pemujaan. Setelah selesai memuja maka
pendeta/Pinandita menuntun
jalannya persembahyangan hingga selesai.
TRI KAHYANGAN PREDESA DJANDJI/NYANYI
PURA DESA
PESAMUAN AGUNG
KARA LINGGA DALEM
PURA DALEM
RATU MAS AYU
RATU NYOMAN/HYANG BARUNA
HARI BHUWANA
HYANG HARI BHUWANA
ARDHANARESWARI
DIK
WIDIK
CANDI BENTAR ( 1965 )
Ardhanareswari = Ardha Nari Iswara
Ardha = setengah / separo
Nari = parwati
Iswara = siwa
Ardha nari iswara sebuah wujud dimana tubuh yang sama dibagi sama oleh
siwa dan parwati , masing-masing mencerminkan
separoh bagian berwujud siwa; satu bagian lainnya merupakan perwujudan
parwati, satu wujud mempunyai dua bagian, setengah laki-laki dan setengah
wanita.
Kedua belahan ni menyatu dan manunggal dalam satu wujud :
Achintya / Sanghyang Tunggal / Sanghyang Licin,
Dalam wujud Achintya tidak ada laki-laki dan wanita,
Disini tidak ada pemisah/pembeda Siwa dengan Sakti, purusa dengan
predana; atau siwa dengan buda = adwaya dengan adwaya jnana = siwa buda
tunggal.
Didalam ajaran Tantrayana Ardhanareswari adalah penunggalan Siwa Sakti
merupaka asal muasal alam semesta dengan segala isinya.
Ardhanareswari penunggalan SiwaBuda merupakan wujud Rwabineda;
Dalam paksa Buda dengan Adwaya-Adwaya Jnana merupakan perwujudan Adi
Buda-Prajna Paramita.
Penyatuan dari dua kekuatan antagonis ini disebut Ardhanareswari =
Sanghyang Tunggal.
Di Besakih penyatuan SiwaBuda menjadi perwujudan Surya Candra.
TAMAN BEJI
BOMA ( 1965 )
Tatanan
Taman Beji Boma berdasarkan tattwa Panca Aksara, Panca Brahma dan Panca Tirta
Amerta
NARAYANA
upanisad


No comments:
Post a Comment